Berlibur ke bali hemat

Bali hotel vouchers  dan Hari berikutnya di Bali kami benar-benar all out jalan-jalan karena memang sehari itulah kesempatan kami jalan-jalan. Besoknya saya harus sudah kembali ke Ngawi, tiket kereta sudah di tangan. Eman-eman kalau hangus, euy. Maklum backpacker. Hehehe. Pagi hari lepas sarapan, niat kami sih langsung saja cabut dari rumah, tapi berhubung motor masih dipakai ya kami harus nunggu dulu. Destinasi pertama kami adalah pantai Sanur karena itulah objek wisata paling dekat yang bisa kami jangkau. Berbekal motor yang sudah ‘mati’ alias waktunya bayar pajak tapi belum bayar dan uang pas-pasan, kami dengan PD mengikuti papan petunjuk arah menuju pantai Sanur. Kanan kiri, putar balik, belok sana, belok sini, akhirnya kami sampai di Sanur! Yeaay! Bahagia rasanya bisa mencapai tempat tujuan dengan selamat sentausa tanpa halangan apapun. Hehe. Dengan tiket masuk Rp. 1000,- per orang (ya, nggak salah baca kok, emang seribu doang!) kami sudah bisa menikmati Sanur. Sayang hari sudah beranjak siang, jangankan mau lihat sunrise, lha wong lihat matahari langsung aja udah nggak bisa saking panasnya.

Pantai Sanur lumayan bersih di dekat gazebo yang biasa jadi tempat nongkrong para pengunjung itu, tapi di pinggir pantainya sendiri agak kotor menurut saya. Meskipun demikian banyak pula yang berenang di laut. Yang tak kalah banyak adalah mereka yang akan menyeberang ke Nusa Lembongan menggunakan boat. Pengen sih bisa nyebrang ke tempat penangkaran penyu itu, tapi berhubung tiketnya Rp. 50.000,- nggak jadi deh. Backpacker oh backpacker.. Pantai Sanur-Bali Pantai Sanur-Bali Puas di Sanur, destinasi berikutnya adalah pantai Kuta karena Oline belum pernah kesana. Saya sih nggak terlau tertarik dengan Kuta karena pasti akan rame banget. Selain pengunjungnya, pedagang yang hilir mudik, tukang bikin tato temporer, tukang kepang rambut, dan tukang-tukang lain biasanya banyak banget di pantai Kuta. Dan memang begitulah kejadiannya.. Satu-satunya yang menyejukkan mata adalah pantai pasir putih dan laut biru bersih Kuta. Dan satu kesalahan fatal yang kami buat saat berangkat, lupa tak bawa air minum. Heuheuu. Jadilah sebotol air seharga Rp. 5.000,- kami beli, padahal kalau harga normal kan Rp. 2.000,- aja tuh. Dasar backpacker, perhitungan banget ya. Hihi. Pantai Kuta-Bali Pantai Kuta-Bali Tak berapa lama kami pulang karena cuaca juga makin panas. Kalau untuk bule sih suasananya oke banget buat berjemur, dijamin langsung gosong. Nah kalau buat kami, suasananya oke banget buat kabuuur. Sore harinya kami ke taman Puputan dan Renon, sekalian sekali lagi muter-muter Denpasar. Taman Puputan (atau lapangan Puputan ya?) konon adalah tempat perang Puputan dulu. Disana ada monumen Puputan, patung dua orang Bali memegang tombak.

Sore hari begitu taman Puputan biasa digunakan untuk tempat nongkrong komunitas-komunitas anak muda Denpasar sepertinya. Yang paling kentara sore itu ada Sahabat Noah Denpasar yang lagi gathering. Beberapa hari lagi memang akan ada konser Noah di Denpasar kala itu. Selesai foto-foto dan istirahat sebentar di Puputan, kami menyeberang ke sebuah pura di samping taman Puputan. Pura Agung Jagatnatha namanya. Sebenarnya saya sangat penasaran ingin melongok ke dalam pura. Tapi ternyata tak diperbolehkan, akhirnya kami Cuma bisa foto-foto di depan pura. Mau gimana lagi. Lanjut ke Renon. Kalau teman-teman pernah ke Borobudur, Renon itu semacam Borobudur-nya Bali. Sebuah bangunan mirip candi dengan ukuran lumayan besar berdiri gagah di tengah banyak lapangan. Kenapa banyak karena memang lapangan di Renon itu ada beberapa. Sore itu ketika kami kesana saja ada sedikitnya 3 klub sepak bola lagi latihan di 3 lapangan berbeda. Tak selebar lapangan sepak bola pada umumnya sih, tapi lumayan luas untuk latihan lah. Nah, tepat di depan bangunan yang saya bilang mirip candi itu, adalah lapangan utama yang biasa menjadi tempat pertunjukan-pertunjukan atau konser. Jika kebetulan teman-teman nonton siaran langsung OVJ pas di Bali, nah di Renon itulah tempatnya. Juga acara musik entah apa namanya saya lupa di MNC TV yang tidak sengaja saya tonton sepulang dari Bali, disiarkan langsung dari Renon juga. Bangunan yang mirip candi itu sendiri tertutup untuk umum. Sore itu cuaca cukup mendung, dan mendadak bangunan itu makin serem aja saya lihat. Hehe, nggak tau lah, bangunan tinggi gagah menjulang yang pagarnya dikunci di depan, plus langit yang lagi menghitam, malah jadi serem bagi saya.